"Perjalanan menempuh ratusan ribu kilometer harus dimulai dengan satu langkah kaki".

Sabtu, 12 Maret 2016

Ketika anak mencari Tuhan

11.13 Posted by azkasadan No comments

Bukan kali pertama aku di serang dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku sangat mematikan. Di tengah-tengah asiknya menyendiri, seorang anak ( Rayyan namanya) menghampiriku dan tiba-tiba saja bertanya :

"ka, who is Allah? Why He looks so scary? I dont wanna face Him" . 

Sontak aku terkejut dengan pernyataan dari pertanyaannya tersebut. 

"Pasti pengaruh dari movie yang dia tonton", ujarku dalam hati. 

Baiklah, "Rayyan sayang, Allah itu Maha Besar dan Dia gak sama dengan kita ciptaanNya. Gak mungkin pencipta itu menciptakan sesuatu yang sama dengan apa yang dia ciptakan. Contohnya ni, Rayyan kan suka banget tu sama pesawat, pesawat siapa yang cipta? Manusia kan? Nah, pesawat itu sama gak dengan penciptanya? Beda kan? Begitu juga dengan kita, Tuhan itu gak sama dan gak akan pernah sama dengan kita. Allah itu gak scary. Allah itu adil, Rayyan. Kayak bunda, kalau Rayyan gak patuh sama Mama, mama pasti suka ngasih hukuman, tapi kalau Rayyan dengerin apa yang mama suruh, pasti mama ngasih hadiah. Begitu juga dengan Tuhan kita, sayang. 
Kalau Rayyan dengerin dan kerjakan apa yang di perintahkanNya, insyaAllah Allah bakal ngasih apapun yang Rayyan mau. Tapi kalau Rayyan gak mau dengerin, pasti Allah ngasih hukuman. Nah adil kan? 

Rayyan pun menggangguk dengan penuh semangat. 

doc:pribadi


"But kak, kenapa mama ngasih nama aku Rayyan? I dont wanna be door even paradise door, door is not good !" 

Hahahaha, siapa yang tidak tertawa jika ada anak yang bertanya demikian. 

"Terus kalau gak ada pintu mau masuk darimana?" Tanyaku. 

Rayyan pun terdiam dan raut wajahnya mengurat rasa penasaran yang mendalam. 
"What do you mean by that kak?" 

Well, "Rayyan itu artinya pintu surga, kakak malah suka dengan nama itu. Tapi pintunya dunia beda dengan pintu surga. Pintu surga itu dari timur ke barat. Can you imagine how long Rayyan is?" 

Anak itu menggangguk dan terus mendengar dengan saksama.

Nah gimana istimewanya Rayyan? Udah tau kan? 

"Yes, I know that my mother gimme that name because he wanna me enter to paradise"

Wah, ini anak udah bisa berpikir kayak gini di umur yang segini muda. 
Finally, dia tersenyum dengan jawaban-jawaban yang diberikan. Tapi, pertanyaannya tidak berhenti sampai disini. Oh my God, pertanyaan macam apa lagi yang dia tanya. 

"Kak, can we see the paradise from google earth?" 

Rayyaaaaannnnnnnn !!!!! 😠😠😠






Rabu, 13 Januari 2016

Fase Kehidupan

19.13 Posted by azkasadan No comments
Pernikahan bukanlah belenggu atas kebebasan, melainkan sebuah fase atau tahapan hidup yang insyaAllah akan dialami oleh setiap manusia, kini atau nanti. Pernikahan adalah penyatuan dua hati dalam indahnya komitmen dan janji suci. Pernikahan adalah pelengkap separuh diri, yang segala sesuatu di dunia ini tiada yang dapat menyamai.

Pernikahan bukan tentang apa yang ‘aku’ punya dan tidak punya, bukan tentang apa yang ‘kamu’ punya dan tidak punya. Dalam pandanganku, pernikahan yang diniatkan hanya untuk melengkapi kehidupan akan melahirkan cinta transaksional : cinta terpelihara karena ada tukar-menukar antar suami dan istri. Tukar-menukar kecantikan dan kekayaan, kebesaran nama dan kebesaran harta, keshalihan dan keindahan rupa, dan seterusnya, dan seterusnya.
Benar bahwa dalam pernikahan ada hak dan kewajiban yang membuat baik suami dan istri berhak meminta, dan di sisi lain berkewajiban untuk memberi, yang secara tidak langsung membentuk suatu ‘transaksi.’
“Aku kan sudah menjalani kewajiban mencari nafkah, mana pelayananmu terhadapku?” ujar suami
Di saat yang sama, istri bisa saja berkata, “Aku sudah berlelah-lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah, merawat anak, melayanimu, sebagai kewajibanku. Sekarang, mana hak aku untuk belanja dan jalan-jalan?”
Berbicara hak dan kewajiban suami dan istri dalam pernikahan tentu bukan menjadi areaku. Yang aku ingin sampaikan adalah, kita bisa saja menjalani kehidupan pernikahan dengan pola pikir ‘hak-kewajiban’ seperti itu, dengan harapan pernikahan kita benar-benar berjalan dengan penuh pertanggungjawaban, karena itulah bobot besar hubungan pernikahan jika dibandingkan dengan hubungan pacaran. Dengan pola pikir seperti itu, kita bisa berharap tidak akan ada hak-hak yang terbengkalai, tidak ada yang terdzalimi.



doc:google
Bahwa pernikahan bukanlah tujuan tapi bagian dari proses. Dan, semua manusia memiliki prolog sebelum memutuskan untuk menikah dengan orang yang diyanikininya tepat. Yaa..walaupun dikata mereka mungkin telah menjalani hubungan selama beberapa tahun terakhir, tapi takdir tetaplah takdir. Tidak bisa dilawan atau dihindari atau bahkan memilih. Tidak kesemuanya.
Ikrar nikah bukanlah sebuah tujuan. Jangan dikira habis ikrar habis perkara. Oh, tentu tidak.


Nikah itu tentang komitmen. Bagaimana dua orang yang tadinya asing satu sama lain, harus benar-benar berniat untuk mempertahankan apa yang sudah diikrarkan bagaimanapun caranya, apapun kondisinya.

Nikah bukan sesuatu yang bisa dihitung dengan rumus matematika. Karena nikah itu kualitas. Bukan kuantitas. “Kamu udah nikah?” “Belum. Belum dua kali.” Bukan yang seperti itu. Omongkosong sekali kalau ada yang mengatakan “Aku rela berbagi dengan dia.” Tidak. Tidak ada yang rela diduakan. Satu itu menggenapkan. Dua membunuh.

Nikah bukan soal “kamu udah ngasi apa ke aku?” Tapi soal berapa banyak yang sudah aku beri, atau berapa banyak yang sudah dia beri. Juga soal mengapa aku memberi. Mengapa dia memberi.

Nikah bukan soal “Aku cemburu kamu dekat-dekat dengan dia!” Bukan, bukan soal itu. Tapi soal “Aku memahami keadaanmu" 
Nikah juga bukan soal “Jangan pergi, aku membutuhkanmu.” Tapi soal “Tenang, kau tahu aku selalu ada untukmu.” Tanpa harus diminta.
Tidak bermaksud sok tau, hanya saja bercermin dari apa yang kulihat, apa yang kudengar, dan apa yang kualami, termasuk dari beberapa walimah yang kuhadiri belakangan ini. Pernikahan bukan sesuatu yang mudah untuk dilalui. Banyak airmata. Tapi juga bukan berarti tiada tawa.
Pernikahan itu tentang pengorbanan. Sebuah pengorbanan yang tidak bisa dilakukan hanya dengan bermimpi.
Nikah dan pernikahan itu tentang keikhlasan. Semua tentang keikhlasan. Keikhlasan untuk memberi. Keikhlasan untuk mencinta. Keikhlasan untuk mengorbankan. Keikhlasan untuk menerima. Keikhlasan untuk menghargai satu sama lain. Keikhlasan untuk berbagi tangis juga senyum.
Aku bisa menuliskan semua ini karena aku melihat dan mendengar. 
Mereka semua memberiku jawaban, bahkan sebelum aku bertanya.

Selasa, 12 Januari 2016

Tahun baru, Semangat baru

14.05 Posted by azkasadan 2 comments
Masih bisa di anggap tahun baru kah? 

Well, aku adalah manusia yang tidak pernah tertarik untuk merayakan pergantian tahun baru. Bagiku, tahun baru hanyalah pergantian angka, pergantian kalender, pergantian target hidup dan menambahnya semangat baru, that's all. Memang tidak bisa di pungkiri bahwa kita sebagai manusia terkadang menginginkan sesuatu yang berbeda dalam hidup, berbeda dari orang-orang sekitar bahkan cenderung mengasingkan diri dari kehidupan orang-orang pada umumnya.
Aku termasuk orang-orang yang berkategori seperti itu. Aku suka hal yang berbeda dari kebanyakan orang yang menganggap itu hal biasa, termasuk masalah semangat. Biasanya setiap awal tahun, buku harianku berganti menjadi baru dengan kalender menjadi penghias di halaman pertama. Entahkah terlalu bersemangat ataukah melihat orang lain begitu antusias, aku pun segera meliris lebih kurang 100 keinginan di tahun tersebut. Ketika hal tersebut berhasil aku gapai, maka aku segera mencoretnya dan berfikir, kenapa aku menulis ini? 



Menulis saja tidak cukup tanpa mentadabburi dan tau tujuan dari apa yang kita tulis. Contohnya, aku menargetkan menikah di tahun ini. Nah, kembali lagi bertanya ke diri sendiri, sudah siapkah untuk menikah di tahun ini? Apa yang sudah kamu persiapkan untuk kehidupan rumah tanggamu nanti? Kehidupan yang bagaimana yang kamu impikan? Bagaimana dengan pencapaian ibadah serta kedekatanmu dengan Sang Maha Cinta? Dan masih banyak pertanyaan lagi. 
Karena itu, sekedar memenuhi catatan harianmu saja tidak cukup tanpa ada ikhtiyar dan doa untuk menggapainya. Tulisan-tulisanmu itu tetap harus kamu pertanggung jawabkan nanti di hadapan Allah.
So, jadikan tahun baru ini ajang untuk menggapai impian dan semangat baru tanpa mengurangi usaha untuk menggapainya. Segera raih pulpen dan buku tersayangmu, listkan mimpi-mimpimu. Semoga di mudahkan :) 

Senin, 11 Januari 2016

Stress adalah pilihan

23.47 Posted by azkasadan No comments
Apakah stress merupakan pilihan juga ??
Tentu saja iya ! memangnya siapa yang menyuruh seseorang untuk stress ? Tidak ada.
Seseorang terkena stress karena ia memilih cara berpikir, gaya hidup, dan keputusan yang membuatnya stress.
Stress takkan pernah terjadi tanpa seizin orang yang mengalaminya, stress takkan datang tanpa diundang atau tanpa diberi kesempatan untuk datang.



Ketika seseorang ditimpa masalah atau kesulitan, ia tinggal memilih :
Mau stress dengan masalahnya itu atau mau rileks dan tawakkal menghadapinya sehingga tetap bisa hidup dengan dada yang lapang dan jiwa yang tenang.
Manakala seseorang terjebak macet, maka ia harus memilih, mau pusing dan stress akibat kemacetan atau tetap tenang dalam menghadapinya.

Tatkala seseorang telah berusaha sesuatu dengan sebaik-baiknya lalu ia gagal mencapai yang diinginkannya, ia juga tinggal memilih. Apakah ia mau menyiksa diri dengan hidup stress ataukah bersabar, memperbaiki diri dan terus belajar, lalu mencoba lagi meraih impiannya tanpa jenuh dan menyerah.

Karena itu semakin jelaslah bahwa tidak ada hidup yang terpaksa. hidup adalah pilihan. Dimulai dengan pilihan, dijalani dengan pilihan, dan diakhiri juga dengan pilihan. Dan tentu setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing, disenangi atau tidak !
Itu berarti resiko sebenarnya adalah juga pilihan. Semua resiko, disadari atau tidak adalah dipilih oleh orang yang menerimanya.

Last Paper Syndrome

21.39 Posted by azkasadan No comments
Penyakit malas bisa menggerogoti siapapun tanpa pandang bulu, orang-orang yang rajin saja bisa terkena syndrome ini sewaktu-waktu apalagi aku yang memang tidak pernah ada mood untuk belajar. 
Last paper syndrome maksudnya keinginan kamu untuk lebih matang mempersiapkan subject 
di final exam itu hilang seketika. Bisa jadi karena kamu menganggap itu pelajaran akhirmu sehingga kamu lebih enjoy. Hatimu memang tak karuan memikirkan paper mu itu, tapi kepalamu malah membayangkan betapa empuknya kasur di rumahmu dan ademnya bisa merasakan hujan dirumah. 
Syndrome itu yang sekarang menghampiriku. 2 subject itu sedikit memang, tapi muqarrar nya kadang-kadang suka kebangetan. Bukan ingin mengeluh, hanya saja ingin memberi sedikit trik agar bisa jauh-jauh dari syndrome ini. 


Nah, untuk kalian yang sedang menghadapi ujian, baiknya untuk tidak menghabiskan 24/7 jam di depan buku kalau tidak ingin stress. Usahakan tetap olahraga untuk menyeimbangkan tubuh dan otak, jadi mereka bekerjanya seimbang. Dan cari udara baru, jangan biarkan matamu hanya menatap buku, perpustakaan, kamarmu dsb. Keluar dari duniamu dan biarkan tubuhmu menikmatinya. Dan satu lagi yang terpenting, jaga hubunganmu dengan Allah melalui risalahnya, karena dia sebaik-sebaik pengobat hati yang lagi kosong dan galau serta lalai dengan dunia. 

Tetap semangat dan selamat menghadapi ujian semoga Allah mudahkan 😊

Minggu, 20 September 2015

Cinta di atas cinta

12.34 Posted by azkasadan No comments
"Menghafal Quran itu lebih manis daripada cinta. Hanya orang-orang yang mencintainya yang bisa merasakannya, karena ia adalah cinta di atas cinta". -Quraners 
 
 Bagi sebagian orang, mencuri-curi waktu di sela-sela kesibukan adalah hal yang lumrah. Tapi menurutku, menyediakan waktu yang khusus untuk bermesraan denganya adalah hal yang paling indah. Alquran itu tidak pernah boleh dibagi kasih sayang dan waktunya, karena ia bersifat pencemburu dan sensitif.  
 Setiap ayat-ayatnya punya keindahan dan mampu menghipnotis siapa saja yang membacanya. Orang yang membacanya bisa meleleh dibuatnya dengan sastranya yang begitu tinggi. Seorang Umar Ibn Khattab yang hatinya keras bagaikan baja saja bisa luluh dengan segala keindahan bahasanya.Novel dari segala novel, kitab dari segala kitab, rujukan dalam segala ilmu dan pedoman hidup manusia., hatta kitab cinta pun  tersedia dalam satu kitab (all in one) yang dinamakan Al-quran. 

 Haaa, jujur ternyata muraja'ah itu lebih sulit daripada menghafal. Apalagi di tengah padat-padatnya jadwal kuliah dan organisasi. Untuk aku yang pasti kebingungan kalau hidup tanpa mutaba'ah (timetable) terkadang sedikit sulit untuk menyusunnya. Kapan waktu untuk mengulang, muraja'ah, organisasi,dsb. Dan ternyata Allah selalu memudahkan urusan hambanya. Di dalam satu hari yang terdiri dari 24 jam, ada saja waktu yang lebih, misalnya sebelum subuh atau ba'da subh serta ba'da ashar yang khusus untuk menghafal dan muraja'ah, sebelum tidur untuk mengulang sedikit pelajaran, istirahat siang di sela-sela waktu kosong kalau lagi ga ada kelas, 

"فإن مع العسر يسرا . إن مع العسر يسرا"
Maka sesunggunya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan 
 
 See ? Berapa kali Allah ulang ayat ini dalam surah yang sama, belum lagi di surah dan ayat berbeda.
Kalau juga masih anti dengan al-quran, di coba aja dulu menghabiskan isinya dengan membaca saja terlebih dahulu tanpa tahu makna juga gapapa untuk permulaan, siapa tau bakal ketagihan untuk selanjutnya. Selamat mencoba menikmati kitab cinta di atas cinta karya Yang Maha Cinta.



Selasa, 08 September 2015

Ada kenikmatan disetiap usaha

23.27 Posted by azkasadan 4 comments
"Semua orang akan berjuang mati-matian untuk menggapai cita-citanya, termasuk aku !"

Bismillah. 
Selamat pagi, siang dan malam semuanya teman-teman di segala sudut kota. Akhirnya setelah sekian lama menghilang, muncul lagi ini blog (haha), habisnya aku terus-terusan sok sibuk tanpa kabar apapun. Well, kali ini aku cuma mau berbagi pengalaman selama liburan yang Alhamdulillah gak sia-sia deh walaupun gak ngambil short semester (SP-red). Bagiku, sekecil apapun pengalaman yang kita punya, dia tetap berharga sampai kapanpun.

Pulau Langkuas, Belitung.
Dua bulan yang lalu, sekitar tanggal 25 Mei 2015, aku berangkat dari Kuala Lumpur Airport ( KLIA2) menuju Belitung, pulau yang sama sekali tidak pernah terlintas di benakku untuk aku kunjungi. Kali ini bukan untuk liburan, ya walaupun terkadang sambil menyelam minum air, tapi untuk berjuang menggapai salah satu mimpi yang telah aku listkan dengan baik dibuku harianku selain menjelajahi Indonesia. Dengan niat yang selalu kuperbaharui dan tujuan serta semangat yang selalu on-fire tanpa batasan, aku akan memaksimalkan usaha dan doaku untuk meraihnya. 

Sebelum berjuang, ada banyak hal yang harus kamu tau. Untuk meraih sesuatu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pastinya, disetiap usaha yang ingin kamu gapai, ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Allah agar kita mau berusaha lebih giat. Salah satu persiapan sebelum berperang adalah niat yang lurus, ikhtiar yang serius dan doa yang tulus, mantra inilah yang selalu di ingatkan oleh guru besar kami setiap harinya tanpa kenal bosan.

Setelah mempersiapkan segalanya dengan baik, marilah kita mulai peperangan tersebut. Perang apa ? Perang memakan segala kelezatan kalamNya Dia yang Maha Agung. Dulunya sempat terfikirkan olehku bahwa menghafal alquran itu sulit. Tapi, apa salahnya mencoba sesuatu yang baru (enggak baru juga sih). Karena aku meyakini bahwa ada kelezatan disetiap perjuangan. 

Untuk sesuatu yang ingin kamu gapai, kamu harus keluar dari zona nyamanmu agar kamu bisa mendapatkan lebih dari ekspektasimu. Waktu istirahatmu harus terkorbankan, makan yang biasanya sesukamu, kali ini lebih teratur dan tidak seenak masakan ibu, kasur yang empuk malah terkadang berubah menjadi kasur panas, mandi yang harus ngantri, dsb. Tapi itu bukanlah alasan untuk menyerah. Sudah siap bukan ?

Menghafal alquran itu selalunya mudah asalkan kamu menemukan metodemu sendiri bukan ikutan teman karena terlihat lebih asik dibandingkan punyamu. Kalau metode menghafal itu sudah kamu dapatkan, selanjutnya kamu harus mengontrol waktumu. Nah, buat timetable sebaik mungkin. Misalnya, kemampuanmu menangkap hafalan itu sedikit lebih lemah, kamu bisa mencoba di setiap 10 menit sekali, kamu harus mendapatkan hafalan minimal setengah halaman (pojok). Sedangkan buat kamu yang kemampuannya lebih, usahamu juga harus lebih. Mungkin disetiap menit ke 10, kamu bisa mengingat minimal 1 halaman. Semuanya kembali ke kemampuan setiap individu, karena hanya kamu sendiri yang tau segalanya tentang dirimu. 

Aku ingin sedikit berbagi metode yang aku tau. Yang pertama, kamu bisa membaca 20 kali atau lebih sebelum menghafalnya. Biasanya, jika lisan sering menyebutkan kalam-kalam indah tersebut dan telinga sering mendengarnya, maka kesempatan mengingat lebih besar. Dan yang terpenting, bersabar. Karena cara ini sedikit memakan waktu. Kedua, menuliskan apa yang kamu hafal. Nah, setelah dibaca beberapa kali, tuliskan ia kedalam buku atau Lauh - metode ini bisa dikatakan long term memory- umumnya dipakai di timur tengah dan Maroko khususnya. Selanjutnya, untuk kamu yang bisa berbahasa arab, apa salahnya kalau mencoba menghafal alquran menggunakan terjemahan atau tafsir lebih baiknya lagi. Disamping memudahkan untuk mengingat, juga bisa mentadabburi kandungan alquran supaya kita bisa bersyukur atas segala limpahan nikmat dariNya. Dan sebenarnya masih banyak cara-cara lain yang bisa kamu gunakan, alangkah baiknya jika kamu bisa menggunakan metodemu sendiri yang belum pernah di gunakan sebelumnya. 

Menghafal alquran ini sedikit berbeda dari amalan yang lain, hasil dari menghafal ini bisa langsung kamu dapatkan seketika itu. Bukan setelah kamu selesai, bahkan ketika kamu memulainya, jika kamu bisa meresapinya senikmat mungkin, kamu akan tau letak kelezatannya. 

Gimana ? indah bukan ?. 
Nah, jangan pernah menunda-nunda dalam hal kebaikan. Ingat, lakukan sesuai kemampuanmu. Jangan paksakan dirimu,
Allah melihat usaha bukan hasil. Ayo tunggu apalagi !
Tidak cukupkah hadiah yang Allah berikan kepada kamu-kamu yang menghafal alquran? 
Mahkota indah nan mewah dan masih banyak lagi. 

Tapi sebenarnya bukan itu yang paling penting, mengambil ibrah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari setelah apa yang kita dapatkan adalah lebih baik daripada sekedar menghafal tanpa tau makna dan aplikasi. 

"ليست العبرة أن نختم القرآن حفظا, تلاوة أو تفسيرا. إنما العبرة أن نعيش معه ! "